Semarang, 21 Mei 2026 – PT Bank Jago Tbk dan Tirto.id mengajak lebih dari 400 mahasiswa di tiga kampus ternama di Semarang mengasah kemampuan berpikir kritis melalui pendekatan literasi finansial dan jurnalisme data. Melalui program kolaborasi Kelas Tirto dan Jagoan Kampus, generasi muda didorong memahami pengelolaan keuangan yang sehat, menyusun konten dan argumen berbasis data, serta mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Kolaborasi ketiga Tirto.id dan Bank Jago ini mengusung tema “Shaping Your Critical Thinking” dan berlangsung pada 19–21 Mei 2026 di Universitas Negeri Semarang, Universitas Wahid Hasyim, dan Universitas Diponegoro. Kegiatan ini menarik antusiasme mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk memahami keterampilan yang semakin dibutuhkan saat ini, mulai dari mengelola keuangan, mengolah dan memanfaatkan data, hingga membangun pola pikir kritis dalam menghadapi dinamika kehidupan dan dunia kerja.
Andhina Ratri Aryani, CFP, Sustainability Program Activation Specialist Bank Jago, yang juga Perencana Keuangan Bersertifikat (CFP), menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis tidak hanya dibutuhkan di ruang akademik atau dunia kerja, tetapi juga dalam membangun kesehatan finansial. Salah satu langkah penting untuk mencapai kondisi finansial yang sehat adalah memahami cara menempatkan uang sesuai tujuan, bukan sekadar menghabiskan atau menyisihkan sisa penghasilan.
“Setelah lulus, kalian mau apa? Kerja, lanjut kuliah, bisnis, atau jeda dulu sebelum menentukan langkah berikutnya? Semuanya butuh biaya dan persiapan. Mulai dari ongkos interview, beli laptop buat kerja, tes bahasa, modal usaha, sampai biaya hidup. Makanya, penting mulai merencanakan keuangan dari sekarang supaya pilihan masa depan bisa benar-benar diwujudkan,” tuturnya.
Menurut Andhina, membangun kesehatan finansial dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengenali kebutuhan, memahami prioritas, menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan diri, serta menjaga keseimbangan antara rasa aman secara finansial dan gaya hidup yang diinginkan. “Di Bank Jago, kesehatan finansial dibagi dalam empat tahap. Mulai dari kontrol finansial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketahanan finansial saat siap menghadapi kondisi darurat, keamanan finansial ketika mulai percaya diri mengambil keputusan dan berinvestasi, hingga kebebasan finansial melalui pendapatan pasif dan pengelolaan aset jangka panjang,” jelasnya.
Untuk bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya, Andhina menekankan pentingnya pengelolaan uang yang sehat dan disiplin. Dalam hal ini, kebiasaan lama masyarakat Indonesia yang membagi uang ke dalam amplop atau wadah sesuai tujuan dapat menjadi solusi sederhana yang relevan hingga kini. Seni menempatkan uang inilah yang menjadi inspirasi fitur Kantong di Aplikasi Jago, yang memungkinkan pengguna membuat hingga 60 Kantong untuk memisahkan uang sesuai kebutuhan dan tujuan finansial tanpa potongan dan biaya administrasi apapun.
“Bisa dimulai dengan bikin Kantong untuk dana darurat, minimal 3x biaya hidup untuk mahasiswa atau yang belum menikah. Lalu lanjut bikin Kantong tabungan, nggak harus langsung besar, kecil-kecil saja dulu tapi rutin. Terakhir, Kantong untuk tujuan hidup seperti biaya wisuda dan persiapan kerja pertama setelah lulus. Jadi uang nggak cuma disimpan, tapi juga punya arah yang jelas,” tutur Andhina.
Tantangan generasi muda saat ini, lanjut Andhina, bukan hanya soal bijak mengelola uang dan membentuk kebiasaan finansial yang sehat, tetapi juga tentang bagaimana terus mengembangkan keterampilan agar tetap relevan dengan perubahan industri. Mulai dari kemampuan berpikir analitis, kreativitas, jiwa kepemimpinan, hingga kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan.
“Untuk itu, mahasiswa perlu invest in the right network, seperti internship, peluang kerja, project, hingga side job. Bahkan dari volunteering, komunitas hobi, sampai study group, semua bisa membuka kesempatan baru. Karena network yang tepat bisa jadi jalan untuk lead a growth net worth.”
Pernyataan ini diperkuat oleh Rachmadin Ismail, Pemimpin Redaksi Tirto.id, yang menekankan pentingnya generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis dan mengolah data untuk berbagai kepentingan, mulai dari menyusun argumen, membuat konten, hingga mengambil keputusan.
Ia menambahkan, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memahami dan mengolah data kini menjadi keterampilan yang semakin esensial, tidak hanya bagi jurnalis, tetapi juga di berbagai bidang pekerjaan. Data tidak hanya menjadi alat kerja, tetapi juga dasar dalam membangun cara berpikir yang lebih kritis dan terstruktur.
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa didorong untuk belajar memanfaatkan data untuk membaca fenomena sosial, mengurai persoalan di sekitar, hingga membangun narasi yang lebih relevan. Dari proses ini, mahasiswa melihat bahwa berpikir kritis berawal dari kemampuan mempertanyakan informasi, mencari pembanding, dan mengevaluasi fakta sebelum menarik kesimpulan.
“Saya merasa data itu juga memberikan security. Jadi kalau kita berbicara pakai data itu relatif aman. Kalau teman-teman asal ngomong tanpa data bisa diciduk besoknya atau tiba-tiba digerebek,” ucap Rachmadin.
Sebagai praktik, peserta kemudian mengidentifikasi isu, mencari data pendukung, menyusun argumentasi, lalu mengolahnya menjadi cerita berbasis data. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa menghasilkan konten yang lebih bertanggung jawab sekaligus melatih pengambilan keputusan yang lebih objektif.
Untuk membuat proses belajar lebih interaktif, peserta juga diajak memainkan Jago Money Quest, permainan edukatif berbasis web yang mengenalkan prinsip pengelolaan keuangan melalui berbagai simulasi dan tantangan sederhana. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, mahasiswa diajak menyusun prioritas, mengambil keputusan finansial, serta memahami dampak pilihan terhadap kondisi keuangan dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian anak muda.