Jakarta, 31 Januari 2026 – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, masih banyak yang memulai tanpa pemahaman yang cukup tentang risiko, tujuan, dan prosesnya. Melalui talk show bertajuk “Cara Jadi Investor Realistis”, Bank Jago bersama Bursa Efek Indonesia dan Stockbit mengajak masyarakat membangun cerita masa depan melalui investasi yang sehat, realistis, dan penuh perencanaan.
Theo Derick, entrepreneur & content creator yang menjadi salah satu narasumber, menyoroti fenomena janji cepat kaya yang kerap memikat calon investor. “Banyak orang tergiur karena ikut tren atau saran teman. Padahal mereka tidak punya tujuan investasi yang jelas. Mereka memiliki persepsi investasi itu adalah game changer yang akan membuat orang jadi makin kaya,” tegas Theo.
Menurutnya, kunci menjadi sejahtera adalah pengelolaan keuangan. Kita perlu waspada terhadap janji-janji profit tinggi tanpa risiko yang sebenarnya bukan investasi.
Tanpa tujuan finansial yang konkret, ujar Theo, seseorang akan mudah tergoda imbal hasil besar yang tidak masuk akal. Padahal, investasi yang sehat selalu dimulai dari perencanaan, punya tujuan yang jelas, serta paham risiko yang bisa diterima.
“Investasi bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten,” kata Theo.
Hal senada disampaikan William, Head of PR & Communication Bibit & Stockbit. Menurutnya, narasi “cepat kaya” terbentuk karena perhatian publik biasanya lebih tertarik oleh kisah cuan instan di media atau media sosial, sedangkan proses, risiko, dan perjalanan jangka panjang kurang diperhatikan.
“Tanpa disadari, ini membentuk persepsi bahwa investasi adalah sesuatu yang selalu cepat dan mudah. Padahal ada proses dan resiko yang harus diperhatikan,” katanya.
Divisi Pengembangan Pasar BEI, Teja Amanda Putra, mengingatkan bahwa kalau ditawari investasi, selalu ingat 2L (Legal dan Logis), hal tersebut adalah fondasi utama dalam berinvestasi. Menurutnya, produk investasi harus sesuai dengan profil risiko dan tentunya
terdaftar serta diawasi oleh OJK. “Mengabaikan hal ini sama saja membuka pintu bagi penipuan berkedok cuan,” tegasnya.
Untuk membangun kebiasaan investasi yang sehat, Bank Jago sebagai pelopor fitur Kantong di Indonesia, menghadirkan cara baru dalam mengelola keuangan. Melalui Aplikasi Jago, pengguna dapat membuat hingga 60 Kantong untuk memisahkan uang berdasarkan tujuan, seperti untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga investasi. Dengan cara ini, uang tidak lagi tercampur, sehingga lebih terkontrol dan terencana.
Sebagai pengguna Aplikasi Jago, Theo Derick mencontohkan kebiasaannya menyisihkan dana liburan, tabungan, hingga investasi di Kantong khusus. Ketika ada promo, ia bisa langsung membeli tanpa rasa bersalah karena dananya sudah dialokasikan sejak awal.
“Promo boleh, FOMO (fear of missing out) jangan. Menabung sekarang jadi lebih mudah karena sudah ada aplikasi Jago. Tiap awal bulan saya memanfaatkan fitur auto-budgeting untuk dana tabungan dan investasi. Selama ada kantongnya, kita tetap aman,” katanya.
Menariknya, Kantong di Aplikasi Jago dapat terhubung langsung dengan Aplikasi Stockbit dan Bibit. Integrasi ini juga didukung dengan RDN Jago yang memungkinkan pengguna membeli saham, obligasi, dan reksadana di Stockbit maupun Bibit, dengan top-up mudah, penarikan instan, dan mendapatkan bunga atas saldo mengendap. Stockbit juga melengkapinya dengan fitur riset seperti screener saham, komunitas diskusi, dan virtual trading bagi pemula.
Yusuf Aria Putera, Digital Product Lead Bank Jago mengungkapkan, saat ini sudah lebih dari 3 juta pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi Bibit dan Stockbit, atau meningkat 38% dalam setahun. Populasi nasabah Jago tersebut sejauh ini telah membuat hampir 4,5 juta Kantong untuk tujuan investasi di Bibit dan Stockbit, yang lebih dari separuhnya menggunakan RDN Jago.
“Kesadaran nasabah Bank Jago untuk berinvestasi meningkat pesat setiap tahunnya, terlihat dari nilai investasi mereka di Bibit dan Stockbit yang meningkat hampir 80% sepanjang 2025,” ungkap Yusuf.
Secara demografi, lanjut Yusuf, hampir 95% investor pengguna aplikasi Jago–yang terkoneksi dengan Bibit dan Stockbit–berusia produktif, dengan rentang usia 17-44 tahun. Populasi generasi Z mendominasi hampir 65%, sedangkan milenial menyumbang 30%.
“Kalau dilihat data, lebih dari 5% populasi berusia 17-19 tahun. Artinya pelajar dan mahasiswa juga sudah banyak yang melek investasi, dan itu tersebar di hampir semua kota di Indonesia,” ungkapnya.
Yusuf juga memperkenalkan konsep 3C: Curious, Critical, dan Conscious, sebagai tips investasi bagi pemula. Menurutnya, investasi yang sehat dimulai dari rasa curious atau ingin terus belajar dan mencoba hal baru secara terukur, agar tetap bertumbuh tanpa kehilangan kendali. Setelah itu, investor perlu bersikap critical dengan menyaring informasi dan memastikan paham akan mekanisme maupun resiko investasi sehingga tidak mudah terpengaruh rekomendasi orang. Terakhir, barulah bersikap conscious, yakni mengambil keputusan untuk investasi secara sadar dan mindful sesuai dengan kondisi pribadi.
“3C bukan sekadar konsep, tapi kompas dalam berinvestasi: curious membuat kita terus bertumbuh tanpa kehilangan kendali, critical melindungi dari keputusan impulsif dan conscious menjaga agar kita tidak salah arah,” tutur Yusuf.
Theo Derick menutup talk show dengan memberikan tips bagi siapapun yang mau memulai investasi. Terpenting, menurutnya, konsisten mengelola penghasilan menjadi tabungan, dibarengi dengan membentuk kebiasaan berinvestasi sejak dini.
“Ketika saving sudah besar, misal Rp100 juta ke atas, kita bisa diversifikasi portofolio investasi ke yang resikonya lebih tinggi. Investasi itu masalah habit, kalau tidak dimulai sejak dini nanti pas modal besar tidak bisa investasi juga,” jelasnya.
Kesimpulan dari talkshow ini adalah, investasi bukan jalan pintas menuju cepat kaya, melainkan proses panjang yang membutuhkan tujuan jelas, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta konsistensi. Dengan kebiasaan yang benar dan alat yang tepat, investasi bukan lagi tentang spekulasi, melainkan tentang membangun masa depan yang lebih tenang dan terarah.
“Jadi kekayaan bukan hasil satu keputusan besar, tapi hasil dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari,” tegas Yusuf Aria Putera.
***
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Marchelo
Corporate Communication
PT Bank Jago Tbk
William
Head of PR & Communication Bibit & Stockbit
+62821 3784 9975