Jakarta – 8 Juli 2026 – Seiring dengan transformasi mendasar yang dibawa oleh kecerdasan buatan / AI (artificial intelligence) di sektor keuangan, lembaga keuangan digital kini dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan: berinovasi secara cepat sekaligus mempertahankan kepercayaan nasabah dan mematuhi standar regulasi yang ketat. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Bank Jago Tbk berkomitmen untuk menerapkan teknologi AI secara bertanggung jawab demi meningkatkan pengalaman nasabah, mendorong produktivitas operasional, serta memperkuat kerangka kerja manajemen risiko.
Nicholas Tan, Direktur* Retail Banking Business Bank Jago, mengakui adanya tantangan struktural dalam mengintegrasikan AI ke dalam infrastruktur keuangan. Berbeda dengan sistem perbankan tradisional yang beroperasi berdasarkan aturan pasti (deterministic), AI mengandalkan model berbasis probabilitas (probabilistic). Oleh karena itu, membangun sistem yang tangguh dan menumbuhkan kepercayaan publik tetap menjadi prioritas utama.
Untuk memitigasi tantangan tersebut, Bank Jago menerapkan pengujian adversarial yang ketat guna mengevaluasi ketahanan model. Bank Jago juga mempertahankan skema "human-in-the-loop" pada proses tertentu untuk memastikan pengawasan manusia tetap menjadi bagian inti dalam pengambilan keputusan penting.
"Di Bank Jago, kami memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab dengan mematuhi seluruh regulasi, melindungi data nasabah, dan melakukan pengujian yang ketat. Langkah ini dilakukan agar model AI kami beroperasi secara akurat sekaligus meminimalkan risiko informasi yang tidak tepat atau AI hallucination," ujar Nicholas dalam sesi panel bertajuk "Responsible AI in Finance: Balancing Innovation, Risk & Regulation" pada ajang World AI Show Indonesia 2026 di Jakarta.
Di samping memprioritaskan privasi nasabah, Nicholas menekankan bahwa penerapan teknologi harus memberikan nilai tambah nyata dan tidak sekadar mengikuti tren pasar. Hal ini dibuktikan dengan pemanfaatan AI oleh Bank Jago untuk mengoptimalkan alur kerja internal. Sebagai contoh, Bank Jago telah mengembangkan compliance bot internal berbasis antarmuka percakapan yang mampu mengkatalogkan dan merangkum peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta dokumentasi internal bank secara cepat.
Otomatisasi ini menyederhanakan koordinasi lintas departemen — mulai dari tim produk, IT, hingga unit bisnis — sehingga tim Compliance dapat fokus sepenuhnya pada tata kelola. "Kami juga memanfaatkan AI untuk memperkuat mitigasi risiko, termasuk mendeteksi dan mencegah penipuan digital demi menekan potensi kerugian finansial," tambah Nicholas.

Sebagai bank berbasis teknologi tanpa kantor cabang, Bank Jago mengandalkan call center sebagai titik interaksi (touchpoint) utama dengan nasabah. Melalui integrasi AI, Bank Jago mampu mengotomatisasi proses transkripsi dalam jumlah besar sekaligus mempermudah evaluasi panggilan, yang menandai evolusi mendasar dalam operasional perbankan.
Langkah ini menjadi pergeseran operasional yang signifikan dari metode evaluasi manual konvensional yang biasanya hanya mencakup 10% hingga 15% dari total interaksi. Alhasil, para supervisor kini dapat mengidentifikasi masalah krusial secara cepat serta memberikan pelatihan ulang yang tepat sasaran bagi customer service.
Ke depannya, Bank Jago memproyeksikan bahwa peta jalan (roadmap) teknologi jangka panjangnya akan mengintegrasikan antarmuka AI generatif berbasis percakapan yang dipersonalisasi. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan panduan keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap konsumen, yang pada akhirnya turut mendukung agenda nasional dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.